KAB.TUBAN-Tuban Belum Punya Kawasan Konservasi Laut
Kendati berada di kawasan pesisir, kepedulian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban terhadap laut terbukti masih sangat rendah. Hingga kini kota yang pernah jaya lantaran lautnya ini belum memiliki Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Padahal tingkat kerusakan kawasan lautnya sudah cukup parah.
Koordinator Kelompok Masyarakat Pengawas Lingkungan Laut (KMPLL) API-API PANTURA, Bambang Eko Wijanarko, mencatat, tingkat abrasi sudah masuk kategori mengkhawatirkan. Saat ini, menurut catatanya, Tuban telah kehilangan 6.500.000 m2 pantainya akibat abrasi. “ Air laut telah mengikis daratan sejauh 100 meter lebih. Kalau kita kalikan dengan panjang pantai, kita telah kehilangan 6.500.000 m2 kawasan pantai akibat abrasi,” terang Bambang Wijanarko, Sabtu (9/4).
Menurut Wijanarko, abarasi tidak akan separah itu apabila Pemkab memiliki kepedulian terhadap kawasan laut. Tanaman pelindung seperti mangrove, cemara laut dan sejenisnya nyaris sudah tidak bisa ditemui di sepanjang pantai. Kalaupun tidak ada upaya penanaman kembali tanaman-tanaman tersebut oleh Kelompok Tani Pantai, mungkin hingga sekarang tanaman-tanaman itu tidak lagi bisa ditemui. Itu pun baru berhasil menghijaukan pantai seluas 8 ha di sekitar kawasan Desa Jenu, Kecamatan Jenu. Selebihnya, kata Wijanarko, hanya satu-dua batang waru dan pandan yang kondisinya sangat mengenaskan.
Lebih-lebih lagi, lanjutnya, puluhan hektar terumbu karang yang ada di kawasan perairan Tuban juga rusak parah dan hingga sekarang belum berhasil diperbarui. Wijanarko mencatat setidaknya terdapat 154,75 hektar area terumbu karang di perairan laut Tuban. Namun sekitar 92,48 hektar atau 60 persen terumbu karang tersebut rusak. Padahal keberadaan terumbu karang tersebut bukan saja berfungsi sebagai tempat berkembang biakan ikan dan biota laut lainnya, tetapi juga berfungsi sebagai penahan arus laut sehingga tingkat abrasi bisa ditekan.
Banyak faktor yang menjadi penyebab rusaknya kawasan terumbu karang tersebut. Wijanarko menyebut maraknya kegiatan industri sebagai salah satu faktor yang mempercepat tingkat kerusakan terumbu karang. “ Pembuatan pelabuhan, pemasangan pipa distribusi migas, pembuatan jalur lalu-lintas kapal-kapal besar pengangkut kebutuhan industri secara langsung telah merusak terumbu karang. Banyak terumbu karang yang terpaksa dirusak untuk kepentingan industri tersebut,” kata Wijanarko.
Kepala Seksi Program dan Pelaporan Dinas Perikanan dan Kelautan (DPK) Kabupaten Tuban, Ir. Anton Tri Laksana, sependapat. Anton tidak membantah seriusnya kerusakan kawasan laut Tuban. Namun Anton melihat bukan hanya faktor kegiatan industri yang menyebabkan rusaknya terumbu karang yang berakibat semakin tidak terkendalinya abrasi. “ Banyak juga nelayan yang merusak terumbu karang, sebagian lagi ada yang mengambilnya untuk dijual karena karang memiliki nilai ekonomis yang lumayan tinggi,” kata Anton.
Anton mengakui adanya KKLD sangat diperlukan untuk selamatnya kawasan pantai . Menurutnya, kontur pantai Tuban memang landai dan bahkan lebih rendah dari permukaan air laut saat pasang. Kondisi ini menjadikan air laut mudah sekali masuk ke daratan, bahkan hingga 60 meter lebih jauhnya. Ia sepakat bila lestarinya terumbu karang bisa memperlambat abrasi karena arus laut akan sedikit lemah tertahan terumbu-terumbu karang, sehingga tekanannya saat menyentuh pantai menurun.
Pihaknya sendiri saat ini, katanya, berupaya keras memperbarui karang-karang yang rusak tersebut dengan cara menanam terumbu karang. Namun upaya tersebut diakuinya belum berhasil maksimal. Selain karena anomali iklim yang menyebabkan air laut terus mengalami pasang, ulah tangan-tangan jahil juga turut menggagalkan upaya rehabilitasi terumbu karang itu. “ Sebagian memang hilang terseret arus air. Tapi sebagian besarnya dicuri orang,” kata Anton.
Anton belum bisa memastikan kapan KKLD tersebut bisa diwujudkan. Saat ini pihaknya baru sampai pada tahap pemetaan kawasan. Dari hasil survay yang dilakukan jajarannya, kawasan pantai Sowan, Kecamatan Bancar dinilai paling potensial untuk dijadikan KKLD. Di kawasan itu, menurut anton, masih banyak terumbu karang yang hidup. “Jenisnya juga masih beragam. Karang jenis cacing kokker, gorgonia, anemon dan polyp masih hidup di kawasan ini. Ikan hias jenis damsel, keling, clown fish juga masih banyak ditemukan,” jelas Anton.
Kawasan lain yang memungkinkan, lanjut Anton, adalah pantai Sukolilo Kecamatan Tuban Kota hingga Pantai Panyuran, Kecamatan Palang. Di pantai sepanjang 500 meter itu, terumbu karang jenis otak juga dinyatakan masih hidup. Hanya saja perlu upaya keras untuk merubah kawasan ini menjadi KKLD lantaran selain banyaknya pemukiman yang menyebabkan kondisi pantai demikian kotor tertimbun tumpukan sampah plastik, para nelayan juga merusaknya karena karang-karang itu mengganggu kegiatan tambat-labuh perahunya.
Anton yakin apabila KKLD nantinya bisa diwujudkan, bukan hanya pantai yang bisa diselamatkan dari gerusan abrasi. Kehidupan nelayan pun bakal membaik lantaran meningkatnya populasi ikan tangkapan. Hingga akhir 2010 lalu, DPK mencatat potensi ikan tangkapan mencapai 11.544 ton/tahun, dengan luas area tangkapan 260 mil persegi, sedangkan kemampuan produksi nelayan tercatat 9.185,8 ton
by.Pecinta Tuban